You need to enable javaScript to run this app.

Melampaui Viralitas: Sintesis Pendekatan Fondasional Britania dan Adab Az-Zarnuji dalam Restorasi Pendidikan

  • Senin, 16 Februari 2026
  • Hendriana,S.T
Melampaui Viralitas: Sintesis Pendekatan Fondasional Britania dan Adab Az-Zarnuji dalam Restorasi Pendidikan

Oleh: Hendriana

Di tengah arus deras validasi eksternal dan viralitas digital yang kian menggerus "marwah" pendidikan, kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Pendidikan kini sering kali tereduksi menjadi sekadar arena pencarian pengakuan superfisial, bukan lagi perjalanan mencari kebenaran intrinsik. Fenomena 'metric fixation' kecenderungan untuk terlalu berfokus pada pengukuran kuantitatif semata ini menuntut kita untuk meninjau kembali fondasi dasar pendidikan sebuah kepulangan menuju esensi sebelum kita terjebak lebih jauh dalam teknokrasi yang hampa.

Jika kita menilik sistem pendidikan Britania, terdapat sebuah konsistensi yang patut dipelajari dalam memprioritaskan kemampuan fondasional. Kerangka kerja kurikulum nasional mereka secara tegas menempatkan literasi, komunikasi efektif (oracy), dan penalaran logis sebagai prasyarat mutlak sebelum siswa diperkenankan mendalami materi spesifik. Pedagogi Britania ini menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dan ketajaman berargumen bukanlah sekadar keterampilan tambahan, melainkan landasan utama yang harus kokoh agar siswa mampu menavigasi kompleksitas ilmu pengetahuan di masa depan.

Namun, penguasaan kognitif yang tajam barulah separuh dari hakikat intelektualitas. Fondasi ini akan semakin bermartabat jika disandingkan dengan kearifan klasik seperti Ta’limul Muta’allim Thariqatta’allum, sebuah pedoman etika menuntut ilmu, karya Syekh Az-Zarnuji. Dalam tradisi pedagogi ini, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai transfer informasi, melainkan tentang internalisasi adab, ketulusan niat, dan pengejaran keberkahan ilmu. Az-Zarnuji mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa integritas moral adalah hampa; bahwa ilmu yang sejati memerlukan kesiapan spiritual dan penghormatan mendalam terhadap proses belajar itu sendiri.

Sintesis antara kedua pendekatan ini penekanan pada kompetensi dasar yang kuat ala tradisi Britania dan kedalaman etika keilmuan Timur menawarkan jalan keluar bagi masa depan pendidikan kita. Ini bukan sekadar tentang mencetak teknokrat yang mahir secara prosedural, melainkan tentang membentuk "insan kamil" yang memiliki karakter kokoh sekaligus ketajaman logika. Sebuah perjalanan autentik yang membawa siswa menuju pemahaman mendalam dan kemanfaatan sejati bagi masyarakat.

Pada akhirnya, restorasi pendidikan nasional harus berani melampaui hiruk-pikuk popularitas sesaat. Dengan mengintegrasikan ketajaman logika dan kedalaman adab, kita tidak hanya sedang menyiapkan generasi yang siap kerja serta mampu melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi tetapi juga generasi yang memiliki kompas moral di tengah samudera informasi yang kian tidak menentu. Inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya: sebuah proses pembentukan manusia seutuhnya yang bermuara pada maslahat, jauh melampaui sekadar validasi digital yang semu

 

Referensi:

  1. Az-Zarnuji, S. (Terjemahan 2008). Instruction of the Student: The Method of Learning (Ta’limul Muta’allim Thariqatta’allum).
  2. Department for Education (DfE) United Kingdom. (2014). The National Curriculum in England: Framework Document. Diakses dari https://www.gov.uk/government/publications/national-curriculum-in-england-framework-for-key-stages-1-to-4
  3. Education Endowment Foundation (EEF). (2018). Improving Literacy in Secondary Schools. Diakses dari https://educationendowmentfoundation.org.uk/education-evidence/guidance-reports/literacy-ks3-ks4
  4. Muller, J. Z. (2018). The Tyranny of Metrics. Princeton University Press. Diakses dari https://press.princeton.edu/books/hardcover/9780691174952/the-tyranny-of-metrics

 

Bagikan artikel ini:
Drs. Agus Prasetiana

- Kepala Sekolah -

                                       …

Berlangganan
Banner